Page 1 of 2

Blog Homepage
Newer Entries «
Older Entries »

:: Memang Sudah Nasib ::

tulisan panjang dari tinta kehidupan

4th August 2005, 05:40

Langit dan Laut

Dahulu kala,langit dan laut saling jatuh cinta.
Mereka sama2 saling menyukai 1 sama lain.
Saking sukanya laut terhadap langit, warna laut=langit, saking sukanya langit terhadap laut, warna langit=laut.
Setiap senja datang, si laut dg lembut sekali membisikkan "aku cinta padamu" ke telinga langit.
Setiap langit mendengar bisikan penuh cinta laut pun, langit tdk menjawab apa2 hanya tersipu2 malu wajahnya semburat kemerahan.
Suatu hari, datang awan ... begitu melihat kecantikan si langit, awan seketika itu juga jatuh hati thd langit.
Tentu saja langit hanya mencintai laut, setiap hari hanya melihat laut saja, Awan sedih tapi tak putus asa mencari cara dan akhirnya menemukan akal bulus.
Awan mengembangkan dirinya sebesar mungkin dan mnyusup ke tengah2 langit dan laut, menghalangi pandangan langit dan laut 1 sama lain.
Laut merasa marah karena tidak bisa melihat langit, sehingga dengan gelombangnya, laut berusaha menyibak awan yg mengganggu pandangannya, tapi tentu saja tidak berhasil.
Lalu datanglah angin,yg sejak dulu mengetahui hubungan laut dan langit merasa harus membantu mereka menyingkirkan awan yg mengganggu.
Dengan tiupan keras dan kuat, angin meniup awan ... awan terbagi2 menjadi banyak bagian, sehingga tdk bisa lagi melihat langit dg jelas,tdk bisa lagi berusaha mengungkapkan perasaan thd langit, sehingga ketika merasa tersiksa dg perasaan cinta terhadap langit,awan menangis sedih.

Hingga sekarang, kasih antara langit dan laut tidak terpisahkan, kita juga bisa melihat di mana mereka menjalin kasih, setiap ke laut, di mana ada 1 garis antara laut dan langit, kenapa? karena saya yakin di garis horison itulah mereka sedang berpacaran .... dan diam diam saya merasa cemburu ... :(
Permalink | 0 comments | 0 trackbacks | Post Comment
5th May 2005, 04:12

Dadu

Ketika saya pulang di sebuah senja, saya masih melihatnya duduk di sana. Seorang wanita empat puluhan duduk dalam kiosnya di tepi seruas jalan di kotaku yang telah ribuan kali kulewati. Puluhan tahun yang lalu ketika usia saya masih belum genap sembilan tahun, kios itu sudah ada disana. Menjajakan majalah, koran, dan sejumlah barang kelontong.

Ketika itu mobil kami berhenti di depan kiosnya dan wanita itu datang menghampiri membawa apa yang biasanya kami inginkan, majalah Ananda dan Bobo buat saya serta majalah Tempo dan Intisari untuk ayah. Demikian terjadi sepekan sekali sepulang sekolah selama bertahun-tahun hingga tiba saatnya saya beranjak remaja dan berganti selera baca, saya tak lagi menemui wanita itu.

Sekonyong-konyong di senja itu, tatapan mata saya ke luar angkot yang tengah membawa saya pulang ke rumah, menyapu kios itu dan wanita yang sama di dalamnya. Bedanya, kali ini ia tak lagi menjajakan koran dan majalah. Hanya rokok, minuman cola, air mineral, dan sejumlah barang lain. Apakah itu semacam kemunduran perniagaan, saya tak tahu persis. Yang tampak jelas bagi sel-sel kelabu saya adalah kenyataan bahwa ia, untuk menafkahi hidupnya, masih saja duduk di tempat yang sama, setelah lewat bertahun-tahun.

Suatu sore lain dalam sebuah gerbong kereta yang saya tumpangi, saya menatap puluhan gubuk dan rumah petak di sepanjang lintasan rel yang menuju stasiun Senen. Benak saya digelayuti iba dan juga pertanyaan. Sejumlah gerobak mie ayam melintas di jendela dengan cepat. Apa yang begitu menarik dari kota ini, begitu pertanyaan saya, sehingga mereka sanggup bertahan dalam kepapaannya di tengah gemuruh Jakarta yang keras. Apakah itu nasib? Adakah nasib yang membuat Ibu penjaja koran yang tinggal di Semarang dan mereka yang tinggal di kompleks kumuh Jakarta tetap bertahan di sana?

Bagaimana bisa kita memahami nasib? Saya tak bisa. Tetapi keponakan saya yang berumur lima tahun punya petunjuknya.

Saat itu saya sedang bermain berdua dengannya: Ular-Tangga. Setelah beberapa lama bermain dan bosan mulai merambati benak, saya meraih surat kabar dan mulai membaca-baca. Nanda, keponakan saya itu, kemudian berkata, "Ayo jalan! Gililan Om. Kalo nggak jalan juga, Om bakal nggak naik-naik, di situ telus, dan mainnya nggak selesai-selesai."

Saya tersadar.

Ular-Tangga, permainan semasa kita kanak-kanak, adalah contoh yang bagus tentang permainan nasib manusia. Ada petak-petak yang harus dilewati. Ada Tangga yang akan membawa kita naik ke petak yang lebih tinggi. Ada Ular yang akan membuat kita turun ke petak di bawahnya.

Kita hidup. Dan sedang bermain dengan banyak papan Ular-Tangga. Ada papan yang bernama kuliah. Ada papan yang bernama karir. -bleep- atau tidak dengan permainan yang sedang dijalaninya, setiap orang harus melangkah. Atau ia terus saja ada di petak itu. -bleep- tak -bleep-, setiap orang harus mengocok dan melempar dadunya. Dan sebatas itulah ikhtiar manusia: melempar dadu (dan memprediksi hasilnya dengan teori peluang). Hasil akhirnya, berapa jumlahan yang keluar, adalah mutlak kuasa Tuhan. Apakah Ular yang akan kita temui, ataukah Tangga, Allah-lah yang mengatur. Dan disitulah nasib. Kuasa kita hanyalah sebatas melempar dadu.

Malangnya, ada juga manusia yang enggan melempar dadu dan menyangka bahwa itulah nasibnya. Bahwa di situlah nasibnya, di petak itu. Mereka yang malang itu, terus saja ada di sana. Menerima keadaan sebagai Nasib, tanpa pernah melempar dadu.

Mereka yang takut melempar dadu, takkan pernah beranjak ke mana-mana. Mereka yang enggan melempar dadu, takkan pernah menyelesaikan permainannya.

Setiap kali menemui Ular, lemparkan dadumu kembali. Optimislah bahwa di antara sekian lemparan, kau akan menemukan Tangga. Beda antara orang yang optimis dan pesimis bila keduanya sama-sama gagal, Si Pesimis menemukan kekecewaan dan Sang Optimis mendapatkan harapan.
Permalink | 0 comments | 0 trackbacks | Post Comment
5th May 2005, 04:09

Begitulah Kira Kira

Terkadang ada saat-saat dalam hidup ketika engkau merindukan seseorang
begitu dalam, hingga engkau ingin mengambilnya dari angan-anganmu, lalu memeluknya erat-erat!

Ketika pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain terbuka; tetapi,
seringkali kita memandang terlalu lama pada pintu yang tertutup hingga kita tidak melihat pintu yang lain, yang telah terbuka bagi kita.

Jangan percaya penglihatan, penglihatan dapat menipu.

Jangan percaya kekayaan, kekayaan dapat sirna.

Percayalah pada dia yang dapat membuatmu tersenyum, sebab hanya senyumlah yang dibutuhkan untuk mengubah hari gelap menjadi terang.

Carilah dia, yang membuat hatimu tersenyum.

Angankan apa yang engkau ingin angankan, pergilah kemana engkau ingin pergi, jadilah seperti yang engkau kehendaki, sebab hidup hanya satu kali dan engkau hanya memiliki satu kesempatan untuk melakukan segala hal yang engkau ingin lakukan.

Semoga engkau punya cukup kebahagiaan untuk membuatmu tersenyum, cukup
pencobaan untuk membuatmu kuat, cukup penderitaan untuk tetap menjadikanmu manusiawi, dan cukup pengharapan untuk menjadikanmu bahagia.

Mereka yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki yang terbaik dari segala sesuatu, mereka hanya mengoptimalkan segala sesuatu yang datang dalam perjalanan hidup mereka.

Masa depan yang paling gemilang akan selalu dapat diraih dengan melupakan masa lalu yang kelabu, engkau tidak akan dapat maju dalam hidup hingga engkau melepaskan segala kegagalan dan sakit hatimu.

Ketika engkau dilahirkan, engkau menangis sementara semua orang di
sekelilingmu tersenyum.

Jalani hidupmu sedemikian rupa, hingga pada akhirnya engkaulah satu-satunya yang tersenyum sementara semua orang di sekelilingmu menangis.

Jangan hitung tahun-tahun yang lewat, hitunglah saat-saat yang indah..

Hidup tidak diukur dengan banyaknya napas yang kita hirup, melainkan dengan saat-saat di mana kita menarik napas bahagia, begitu barangkali kata orang bijak.
Permalink | 0 comments | 0 trackbacks | Post Comment
1st May 2005, 13:59

Solidaritas Kebersamaan

Mulai Maret 2005, beli dan pakai gelang solidaritas KEBERSAMAAN
Semakin banyak yang peduli, semakin banyak yang terbantu.
Seluruh keuntungan penjualan gelang sebesar @ Rp.10.000 akan disalurkan kepada program-program peningkatan pendidikan dan perlindungan bagi anak-anak Indonesia.
Dengan membeli, berarti anda sudah menyumbang. Dengan memakai, berarti anda sudah membantu menyebarkan kepedulian kepada yang lain. Terima kasih sudah peduli…
Situs ini merupakan situs resmi Yayasan Tunas Cendekia. Informasi seputar kegiatan dan penjualan resmi gelang solidaritas KEBERSAMAAN dapat dilihat disini. Format Blog yang ditampilkan menceritakan perjalanan kegiatan kampanye gelang peduli anak Indonesia dari hari ke hari. Komentar, kritikan, masukan atau apa saja silahkan anda nyatakan melalui situs.
Mau membantu dengan membeli gelang? Jelas dong!
*gelang berwarna merah bertuliskan solidaritas KEBERSAMAAN secara debossed. Terbuat dari 100% karet silikon synthetic yang elastis dan tahan air.
Awas! Jangan membeli gelang dengan harga diatas Rp.10.000,- Belilah gelang solidaritas KEBERSAMAAN melalui Yayasan Tunas Cendekia, para mitra resmi penjual dan keluarga/teman yang anda percaya. Jika membeli yang bajakan, uang yang dikeluarkan tidak akan membantu anak-anak Indonesia

Semakin banyak yang memakai solidaritas KEBERSAMAAN, semakin banyak anak-anak Indonesia yang terbantu!
Permalink | 0 comments | 4 trackbacks | Post Comment
9th April 2005, 14:51

Kesempurnaan

Ini kisah perjumpaaan dua orang sehabat yang sudah puluhan tahun berpisah. Mereka kangen²an, ngobrol santai sambil minum kopi di sebuah cafe. Awalnya topik yang dibicarakan adalah soal² nostalgia zaman sekolah dulu, namun pada akhirnya menyangkut kehidupan mereka sekarang ini. "Ngomong², mengapa sampai sekarang kamu belum menikah ?" ujar seorang kepada temannya yang sampai sekarang masih membujang.

"Sejujurnya sampai saat ini saya masih terus mencari wanita yang sempurna. Itulah sebabnya saya masih melajang. Dulu waktu saya di Bandung, saya berjumpa dengan wanita yang cantik yang amat pintar. Saya pikir inilah wanita ideal saya dan cocok menjadi istri saya. Namun belakangan di masa pacaran ketahuan dia amat sombong. Hubungan kami putus sampai disitu.

Di Yogyakarta saya ketemu seorang perempuan yang cantik jelita, ramah dan dermawan. Pada perjumpaan pertama aku kasmaran. Hatiku berdesir kencang, inilah wanita idealku. Namun belakangan saya ketahui, ia banyak tingkah dan tidak bertanggung jawab.

Dan ketika aku di Jakarta, aku ketemu wanita yang manis, baik, periang dan pintar. Dia sangat menyenangkan apalagi bila diajak berbicara, selalu nyambung dan penuh humor. Tapi terakhir aku ketahui kalau dia dari keluarga yang berantakan dan selalu menuntut. Akhirnya kami berpisah. "Saya terus mencari, namun selalu mendapatkan kekurangan dan kelemahan pada wanita yang saya taksir. Sampai pada suatu hari, saya bersua dengan wanita ideal yang saya dambakan selama ini. Ia begitu cantik, pintar, baik hati, dermawan dan penuh humor. Dia juga sangat perhatian dan sayang kepada orang lain. Saya pikir inilah pendamping hidup saya yang dikirim oleh Tuhan untuk saya." "Lantas", sergah temannya yang dari tadi tekun mendengarkan "Apa yang terjadi ? Mengapa kamu tidak langsung meminangnya ?" Yang ditanya diam sejenak dan akhirnya dengan suara lirih si bujangan itu menjawab," Baru belakangan aku ketahui bahwa ia juga sedang mencari pria yang sempurna.
Permalink | 0 comments | 0 trackbacks | Post Comment

[1] 2 »
< 2012 >
< May >
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31      
M T W T F S S

Show Recent Entries

Actions
» BusyThumbs Home
» Create Your Own Blog!
» Login
» Author Profile
» Forum
» Any Questions?
My Favourites
Isnaini Loper
My Links
Hot Topics

Google Earth - Improved 3D! by moblog on 25 Sep 2006

Welcome To BusyThumbs! by tripleox on 14 Sep 2006

Edit Pictures In Your Browser by tripleox on 14 Sep 2006

Mobile Phone Safety by tripleox on 13 Sep 2006

Video Blogging by tripleox on 08 Sep 2006

Busythumbs Feedback by tripleox on 06 Sep 2006

BusyTagging by tripleox on 24 Mar 2005

Syndication